Minggu, 10 Maret 2019

Isaac Newton (Bagian 3): Penyusunan yang Logis

Nicholas Copernicus tidak puas karena planet-planet alam sistem Ptolomeus bergerak dengan beragam kecepatan. Dia sepakat dengan Aristoteles, bahwa planet-planet seharusnya bergerak dengan kecepatan seragam dalam lingkaran sempurna.

Astronom Polandia ini bukanlah pengamat bingtang yang rajin. Bahkan dalam setahun pun rata-rata belum tentu ada hasil pengamatannya. Ketika di Universitas Blogna, Copernicus mendengar tentang teori Aristarchus yang mengatakan bahwa bumi bergerak mengililingi matahari. Semua tulisan Aistarchus telah musnah, tetapi gagasan-gagasannya tetap hidup karena Aristoteles butuh waktu untuk menyangkalnya.
Jika semua planet mengelilingi matahari, dan bukan mengelilingi bumi, maka gerak mundur (retrograde) planet-planet dapat dijelaskan dengan mudah. Tetapi untuk membuat agar sistem ini seuai obeservasi, Copernicus masih harus menggunakan episiklus dan deferent (lingkaran besar yang kira-kira berpusat di buumi, peny.) Ptolomeus secara sederhana.
Sistem baru Copernicus ini hampir-hampir tidak mungkin dikatakan menyederhanakan, karena membutuhkan 46 lingkaran untuk menerangkan lingkaran planet dibandingkan dengan 27 lingkaran Ptolomeus. Bukan saja alam semesta ini tidak berpusat ke matahari, tapi pusat alam semesta ini berada di pusat orbit bumi, pada titik dalam ruang angkasa yang berada pada jarak tertentu dari matahari. Bagaimanapun, inilah yang mengilhami orang-orang lain untuk menemukan jawaban sesungguhnya.


Dikutip dari buku: Mengenail Newton For Beginner. Karya: William Rankin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

A guide to edge computing

Put simply, edge computing is the method of processing data where it is being generated, at the edge of a network. Doing the work at the e...