Selasa, 12 Maret 2019

MENCARI KESADARAN SEMESTA DI MAYANTARA (Bagian 1)

MAYANTARA: RUANG BUDAYA BARU DI INTERNET
Selamat datang di mayantara alias cyberspace. Cyberspace adalah tempat kita berada ketika mengarungi dunia informasi global interaktif yang bernama Internet. Secara fisik, Internet tak lain adalah sekumpulan komputer, tersebar di seluruh dunia, yang dihubungkan satu sama lain melalui jaringan telekomunikasi satelit global dan kabel telepon lokal. Istilah cyberspace itu sendiri diciptakan oleh seorang penulis fiksi ilmiah, William Gibson, yang membayangkan adanya dunia maya atau virtual di dalam jaringan komputer yang mensimulasikan dunia nyata kita sehari-hari. Memang sulit dibayangkan bila belum dialami. Namun, sebuah uraian singkat berikut ini mungkin bisa memperjelas.
Ketika kita bercakap-cakap melalui telepon dengan kawan bicara kita, ada di manakah kita, atau apakah yang mengantarai kita dan kawan bicara kita tersebut? Bagi para teknisi, pertanyaan ini tentu saja aneh. Jawabannya adalah kita berada di tempat kita masing-masing dan yang ada di antara kita kawat telepon atau udara yang menghubungkan kedua pembicara telepon. Jawaban itu rasional, tetapi bagi orang awam jawaban itu terlalu rumit. Sebuah kiasan tentunya lebih memudahkan pembicaraan.
Di antara dua orang yang bercakap-cakap tentunya ada ruang. Ketika kita bercakap-cakap secara lisan, ruang itu tak lain adalah ruang fisik yang tiga dimensi itu. Jika kita bercakap-cakap lewat telepon, tentunya ada sejenis ruang juga yang mengantarai kita. Ruang itulah yang disebut oleh William Gibson sebagai cyberspace. Kiasan atau metafora ruang ini memang menjadi lebih relevan ketika terjadi komunikasi di antara lebih dari dua orang dan masing-masing berada di tempat-tempat yang tersebar di penjuru bumi sebab ruang itu kini tidak hanya mengantarai, tetapi justru melingkungi para komunikator dalam jaringan komputer. Dan ketika yang berkomunikasi bukan hanya dua atau banyak manusia, melainkan juga mesin-mesin informasi alias komputer, kiasan ruang itu semakin relevan.
Namun, ketika bentuk komunikasi itu menadi lebih beragam dengan ikut sertanya sang komputer, melalui internet, gaya bahasa kiasan alias metafora itu tidaklah memadai untuk melukiskan ruang yang baru itu. Suatu gaya bahasa yang lebih memperjelas adalah analogi. Dengan adanya komputer, informasi sebenarnya bukan hanya bisa disampaikan ke orang lain, melainkan juga bisa disimpan sebagai datan dalam memori komputer.
Informas yang tersimpan itu kemudian bisa diambil lagi bila diperlukan, bahkan bisa diolah dan diubah-bentuk oleh mikro-prosesor, jantung sang komputer. Pengolahan data dalam komputer itu dilakukan mikroposesor sesuai dengan perintah atau program. Program-program pengolah informasi ini juga disimpan dalam memori. dan informasi yang bisa disimpan dan diolah itu tidak hanya suara, tetapi juga tulisan, gambar, foto dan video-klip.
Dengan demikian, kita dapat mengumpamakan pelbagai data dan program pengilahnya sebagai barang-barang dan alat-alat virtual atau maya yang berada dalam cyberspace itu. Jadi, cyberspace tidak saja melingkungi diri kita, tetapi juga dihuni oleh benda-benda maya yang, dalam kenyataannya, semakinlama semakin banyak saja. Itulah sebabnya, di awal tulisan ini, kata "mayantara" digunakan untuk menjadi padanan kata bahasa Indonesia bagi kata bahasa Inggris, cyberspace.

Bersambung....


Dinukil dari buku: "Spiritualitas Cyberspace; Bagaimana Teknologi Komputer Mempengaruhi Kehidupan Keberagamaan Manusia." Karya: Jeff Zaleski

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

A guide to edge computing

Put simply, edge computing is the method of processing data where it is being generated, at the edge of a network. Doing the work at the e...