Senin, 11 Maret 2019

Pythagoras: Awan Ketakberhinggaan

Bahwa kita masih menyebut bilangan ganjil atau genap, atau membahas pangkat dua dan pangkat tiga dari pelbagai bilangan, adalah karena jasa Pythagoras. Inilah yang menghancurkan keteraturannya. 
Bujur sangkar pada sisi miring (sebuah segitiga siku-siku) adalah sama dengan jumlah bujursangkar pada kedua sisi yang lain. Tiga pangkat dua ditambah empat pangkat dua sama dengan sembilan ditambah enam belas, sama dengan dua puluh lima. Sisi miring sama dengan akar dua puluh lima. jadi sisi miring sama dengan lima.

Seorang penganut aliran Pythagoras, Hippasus, pada sebuah pelayaran menganggap bahwa menemu-kan diagonal bujur sangkar adalah pengisi waktu luang yang aman.
Satu pangkat dua ditambah satu pangkat dua sama dengan satu ditambah satu, sama dengan dua. Diagonal adalah akar 2. Tapi, berapakah akar dua itu?
Semua upaya untuk menyatakan akar dua sebagai fraksi (perbandingan dua angka seluruhnya) telah gagal! Tidak ada perbandingan (rasio) semacam itu, akar dua adalah bilangan irasional. Di sinilah sesuatu yang seharusnya adalah bilangan karena ia mempunyai panjang, tetapi ternyata tak dapat dituliskan.
Hippasus dilempar dari kapal dan persaudaraan (brotherhood) bersmpah untuk merahasiakan hal ini. Tetapi bencana telah terjadi. Memang semua adalah bilangan, tapi tidak semua bilangan adalah bilangan. Bersifat ganjil dan genap pada saat bersamaan, bilangan irrasional telah menghancurkan keharmonisan semesta.
"Bilangan irasional bukanlah bilangan sejati, tapi tersembunyi dalam awan ketakberhinggaan." (Michael Stifel dalam Arithmetica Intigra, 1544)
Dikutip dari buku: "Mengenal Isaac Newton For Beginners" karyaa: William Rankin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

A guide to edge computing

Put simply, edge computing is the method of processing data where it is being generated, at the edge of a network. Doing the work at the e...